Mengenal Profesi Penerjemah: Tanggapan terhadap Persepsi Masyarakat

Mengenal Profesi Penerjemah: Tanggapan terhadap Persepsi Masyarakat

Oleh : Wahyu Nia Safitri

Hari ini kita hidup di zaman industri 4.0 di mana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat batas antar Negara melebur. Globalisasi dan perdagangan bebas adalah dampak interaksi yang tidak terelakkan di jaman ini. Kerja sama beda Negara bermunculan sehingga kebutuhan terhadap bahasa asing meningkat. Karena itu, profesi penerjemah kian popular saat ini.

Membahas profesi penerjemah atau pekerjaan alih bahasa, banyak orang yang belum tahu bahwa ada dua kategori penerjemah dengan deskripsi tugas yang berbeda. Sebutan Penerjemah yang kita kenal adalah profesi pengalih bahasa tertulis. Mereka biasanya menerjemahkan buku, dokumen, website, dll. Di sisi lain, tuntutan acara dan kegiatan global membuat kebutuhan terhadap seseorang yang bisa menerjemah lisan juga meningkat. Pengalih bahasa lisan dikenal dengan sebutan Juru Bahasa atau Interpreter. Mereka biasanya menerjemah di acara konferensi, seminar, persidangan di peradilan, pertemuan dan negosiasi bisnis, kegiatan lapangan pekerja teknik, dll.

Meski perannya yang sangat penting di jaman sekarang,

masyarakat umum sering meremehkan para penerjemah karena mereka tidak terlihat bekerja ke luar rumah seperti umumnya pekerja kantoran, terkesan gajinya kecil dan tidak menentu, pekerjaannya sepele dan membosankan.

Anggapan bekerja harus ke luar rumah agaknya “benar” sebelum pandemi Covid19. Sekarang ketika kampanye Kerja dari Rumah (KDR) atau Work from Home (WFH) digaungkan di mana-mana, mungkin pekerjaan penerjemah lepas akan masuk dalam pertimbangan pembaca setelah membaca artikel ini. Tahukah pembaca bahwa profesi penerjemah telah diakui sebagai jabatan fungsional melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 32 PMK/02 Th. 2018 Hal 81 Butir 5 tentang Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan. Jadi, tidak selamanya tidak ke luar rumah itu menganggur dan pemalas. Salah satu hikmah Covid19 adalah meningkatkan kemampuan survive masyarakat dengan aktif dan kreatif mencoba berbagai pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah.

“Gaji penerjemah lepas kecil”, tentunya hal ini tidak sepenuhnya benar. Jika kita memahami aturan standar biaya penerjemahan di atas, kita akan tahu bahwa gaji penerjemah sangat layak dan bisa digunakan untuk bertahan hidup. Hanya saja banyak junior penerjemah yang memang memasang tarif tidak hanya di bawah standar tapi juga terlalu murah. Namun hal itu tidak sepenuhnya salah karena umumnya pasar junior penerjemah ini adalah mahasiswa sejawat mereka. Seiring meningkatnya kualifikasi dan pengalaman mereka, penerjemah junior akan menemukan pasar profesional yang menilai pekerjaan mereka tidak lagi per lembar melainkan bahkan per kata ataupun karakter. Luar biasa bukan, selamat menjalani proses sebagai penerjemah.

Terkait pekerjaan penerjemah tidak menentu, hal itu bergantung pada keaktifan penerjemah tersebut dalam menjemput order. Beberapa cara yang bisa dilakukan seperti rajin berjejaring dengan rekan atau senior penerjemah, membuat profil dan CV di platform penerjemahan, mengirimkan proposal kerja sama ke agensi penerjemahan, membuat blog pribadi atau website, dll. Saya berani menjamin jika beberapa upaya tersebut sudah dilakukan dengan serius pasti order akan selalu ada bahkan banyak yang sampai kebanjiran order dan membagikannya ke rekan-rekan lain. Terkait gajinya, jangan ditanya. Banyak yang merasa sangat puas dan ketagihan setelah melakukan cara-cara di atas. Beberapa order bahkan datang dari luar negeri dengan gaji Dollar yang cukup besar. Selamat mencoba.

Yang menganggap bahwa pekerjaan penerjemah itu sepele dan bisa dengan mudah tergantikan oleh mesin penerjemah, seperti Google, kita maklumi saja karena memang mereka masyarakat umum yang tidak memahami proses kerja bidang penerjemahan. Namun

adakalanya kita perlu menjelaskan bahwa menerjemah itu berbeda dengan mengetik yang tanpa melalui proses berfikir.

Meita L. Sujatna, Wakil Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komisariat Daerah (Komda) Jawa Barat dalam Seminar Nasional Penerjemahan di tahun 2012 menjelaskan bahwa tugas seorang penerjemah tidak hanya menggantikan teks tetapi juga menyampaikan informasi ke dalam bahasa sasaran yang paling sesuai. Desi Mandarini, senior penerjemah dan juru bahasa menambahkan bahwa memahami siapa lawan bicara dan situasi pembicaraan sangat penting dalam proses komunikasi. Pilihan kata dalam berbahasa akan menyesuaikan ketika kita berbicara dengan anak-anak, orang tua, masyarakat umum, atau kalangan akademisi. Begitu pula situasi formal dan tidak formal sangat mempengaruhi bahasa kita, seperti menyapa peserta seminar nasional tentunya berbeda dengan menyapa kawan-kawan di kedai kopi. Sekarang kita memahami bahwa menerjemah bukan pekerjaan yang sepele, melibatkan proses komunikasi yang kompleks dengan memperhatikan audien, konteks, situasi, bahkan budaya.

Secara umum proses penerjemahan meliputi:
1. Peninjauan Dokumen
Meninjau tujuan, format, dan target audien.
2. Penentuan Glosarium
Menentukan glosarium dan terminologi atau istilah-istilah tertentu yang bersifat teknis.
3. Penerjemahan
Menerjemahkan dokumen ke bahasa yang dituju.
4. Penyuntingan
Memastikan hasil terjemahan akurat dan konsisten dengan dokumen asli sebelum diterjemahkan.
5. Koreksi Aksara
Memeriksa ulang untuk mengoreksi bagian yang salah ketik, salah ejaan, ketimpangan tata bahasa, dll.
6. Penyampaian Hasil Akhir
Setelah memeriksa dan membandingkan dengan dokumen asli dan tidak ditemukan kesalahan major ataupun minor, hasil terjemahan bisa dikirimkan ke klien.

Jika sudah memahami rangkaian proses panjang penerjemahan di atas, apakah sekiranya masih beranggapan bahwa mesin bisa menggantikan profesi Manusia Penerjemah atau beranggapan bahwa menerjemah itu pekerjaan yang sepele? Biarlah masyarakat berproses memahami profesi kita, tidak perlu baper, ya …

Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa menerjemah itu membosankan? Menghabiskan waktu di depan layar merupakan sebuah preferensi. Namun sebenarnya pekerjaan menerjemah di depan layar ini sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Bagaimana para pekerja kantor tersebut bisa menikmati ruang kerjanya yang sempit dan duduk berjam-jam di depan layar? Jawabannya mulai saja terlebih dulu untuk menerjemah, nanti kita akan menikmati prosesnya dengan sendirinya. Sekali lagi, tidak perlu baper dengan setiap komentar masyarakat. Kita tunjukkan saja karya kita dari pada sibuk mendengarkan komentar yang tidak membuat kita bertumbuh.

Referensi
Nugraha, Indera. 2012. Penerjemah Bukan Sekadar Mengganti Teks. http://www.unpad.ac.id/2012/11/penerjemah-bukan-sekadar-mengganti-teks/ (Accessed on May 2, 2020 at 9:48 am)

Mandarini, Desi. 2018. Lima Mitos dan Fakta Seputar Profesi Penerjemah & Juru Bahasa. https://desimandarini.com/2018/09/11/lima-mitos-dan-fakta-seputar-profesi-penerjemah-juru-bahasa/ (Accessed on May 2, 2020 at 03:33 am)

________. 2020. Proses Penerjemahan Transletin. https://www.instagram.com/p/B_UeFNhA_CM/ (Accessed on May 2, 2020 at 10:00 am)